|
Hak Atas Kekayaan Intelektual ( HAKI ) dalam pendidikan
- Penulis: Asep Herman Suyanto
- Bahasa: Indonesia
- Jumlah Halaman: 4
- Format file: PDF
- Publisher: IlmuKomputer.Com
- Tahun terbit: Januari 2006
- Download makalah lengkap: asep-haki2.zip
Seperti kutipan, “jika ada pelajaran selama setengah abad yang lalu mengenai perkembangan ekonomi adalah
bahwa sumber daya alam tidak menggerakkan ekonomi; sumber daya manusia yang melakukan itu” (The
Washington Post edisi 28 April 2001). Maka dari itu pengembangan SDM mutlak perlu, agar dapat
memanfaatan SDA yang ada dan tidak hanya tergantung pada keahlian atau pengetahuan SDM asing. Presiden
Nyrere pernah mengungkapkan, alih teknologi merupakan kewajiban hukum dari negara maju ke negara
berkembang; jadi bukan atas dasar belas kasihan.
Agreement on Trade Related Aspects of Intellectual Property
Rights sendiri menekankan sistem HaKI dimaksudkan untuk “contribute to the promotion of technology, to the
mutual advantage of producers and users of technological knowledge and in a manner conductive to social and
economic welfare, and to a balance of rights and obligations”.
Modal intellectual capital akan menjadi lebih penting dan strategis fungsinya, bila dibandingkan dengan physical capital, yang sebelumnya menjadi sumber utama proses produk barang-barang konsumsi untuk kesejahteraan umat manusia.
Secara historis, undang-undang mengenai HaKI pertama kali ada di Venice, Italia yang menyangkut masalah
paten pada tahun 1470. Caxton, Galileo dan Guttenberg tercatat sebagai penemu-penemu yang muncul dalam
kurun waktu tersebut dan mempunyai hak monopoli atas penemuan mereka. Hukum-hukum tentang paten
tersebut kemudian diadopsi oleh kerajaan Inggris di jaman TUDOR tahun 1500-an dan kemudian lahir hukum
mengenai paten pertama di Inggris yaitu Statute of Monopolies (1623). Amerika Serikat baru mempunyai
undang-undang paten tahun 1791.
|